Siapkah Bersahabat dengan Pasangan?

Hidup berkeluarga, urip bebrayan, menjadi suami atau istri, adalah sesuatu yang tidak bisa dipelajari dibangku sekolah. Kita belajar dari apa yang kita lihat, bagaimana bapak-ibu kita menjalani perannya masing-masing. Dan pada saatnya ketika sudah menjalani kehidupan berkeluarga sendiri baru tahu, lho sebenarnya intinya cuma komunikasi. Bagaimana mengkomunikasikan segala sesuatu tanpa menyakiti pasangan.


Semua orang menikah berharap pernikahan itu sekali untuk selamanya, last forever. Menikah hanya untuk bercerai, mungkin hanya para artis dan tukang cari sensasi yang melakoninya.


Menjalani hidup berdua, bisa dikatakan 24 sehari 7 hari seminggu selalu bersama, dari mata merem sampai mata melek yang dilihat dia lagi, dia lagi. Tanpa komunikasi yang terjalin baik, entah bisa berapa kali sehari terjadi pertengkaran. Cinta saja tidak cukup, harus ada saling menghargai, menghormati. Klise tapi nyata. Saling menghargai dan menghormati tercermin dalam kata-kata, sikap dan tindakan pada pasangan kita. Intinya kan komunikasi lagi, komunikasi verbal dan non verbal. Mau cintanya kayak apa, tapi kalau tiap hari dimaki-maki, apa kata dunia?


Menikah dan menjalaninya bukan hanya sekedar sebagai suami atau istri saja, tapi juga sebagai sahabat, teman menghabiskan sisa hidup didunia fana ini. Mungkin itu yang harus dipertimbangkan orang sebelum melangkah memasuki dunia pernikahan. Siap tidak menjalin persahabatan dengan suami atau istri sendiri. Memupuk cinta dan kasih sayang dengan komunikasi. Menjalani kebersamaan sampai habis sisa usia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s